Seni Memilih Talent Iklan yang Meningkatkan Daya Ingat Merek
Memilih talent untuk iklan bukan sekadar mencari wajah tampan atau cantik, melainkan proses strategis untuk menemukan sosok yang bisa menjadi personifikasi nilai merek Anda. Talent yang tepat akan menjadi jembatan emosional antara produk dan konsumen, menciptakan ikatan yang sulit dilupakan. Sebelum memulai pencarian, tentukan dulu karakter seperti apa yang ingin Anda tampilkan – apakah figur yang relatable, inspiratif, atau justru controversial untuk menciptakan buzz?
Kesesuaian dengan Target Pasar menjadi faktor penentu utama. Talent harus mencerminkan demografis dan psikografis audiens sasaran. Iklan produk untuk ibu rumah tangga akan lebih efektif dengan talent yang memancarkan aura keibuan, sementara produk teknologi mungkin membutuhkan figur yang terlihat tech-savvy. Riset menunjukkan iklan dengan talent yang sesuai karakteristik konsumen memiliki conversion rate 32% lebih tinggi dibanding yang asal pilih.
Jangan terjebak pada fisik semata – ekspresi dan kemampuan akting seringkali lebih penting. Talent harus bisa menyampaikan emosi secara autentik dalam durasi singkat. Lakukan screen test dengan berbagai skenario: bisakah mereka terlihat tulus saat memegang produk? Apakah ekspresinya tetap natural setelah 20 kali pengambilan gambar? Contoh sukses seperti iklan-iklan Indomie menunjukkan bagaimana talent “orang biasa” dengan ekspresi tulus justru lebih mengena.
Kredibilitas dan Relevansi talent dengan produk juga faktor krusial. Selebriti dengan image sehat akan cocok untuk produk kesehatan, sementara figur olahragawan tepat untuk iklan perlengkapan fitness. Namun hati-hati dengan celebrity overload – konsumen bisa lebih fokus pada bintangnya daripada produk Anda. Survei membuktikan 68% konsumen lebih mempercayai rekomendasi dari micro-influencer dibanding selebriti besar.
Pertimbangkan juga biaya vs dampak. Talent selebriti kelas A mungkin menarik perhatian, tapi belum tentu memberikan ROI optimal. Banyak merek sukses justru menemukan talent baru yang fresh face namun punya chemistry kuat dengan produk. Platform seperti TikTok kini menjadi “talent pool” baru yang lebih autentik dan terjangkau. Alokasikan budget untuk talent yang sebanding dengan skala kampanye dan durasi penggunaan hak imagenya.
Terakhir, kolaborasi jangka panjang seringkali lebih menguntungkan. Ketika konsumen melihat talent yang sama muncul berulang untuk merek tertentu, akan tercipta asosiasi kuat di benak mereka. Seperti pasangan Luna Maya dan produk kosmetik tertentu yang telah bertahun-tahun menjadi wajah merek tersebut. Buat kontrak fleksibel yang memungkinkan pengembangan karakter talent seiring evolusi positioning produk Anda.





